Pengenalan Pengelolaan Sampah Pada Pembelajaran IPS Upaya Menumbuhkan Cinta Lingkungan Siswa

 

Muh. Sholeh

(Dosen Jurusan Geografi FIS Unnes)

Email: muh.5eh@gmail.com

 

Pendahuluan

Keberadaan sampah di lingkungan sekolah adalah keniscayaan. Setiap hari siswa memanfaatkan benda ntuk beragam aktifitas yang hasil ahirnya adalah produksi sampah dengan beragam varian bentukk, jenis, dan volumenya. Proses pembelajaran juga menghasilkan sampah. Guru di kelas memberikan tugas kepada siswa pada selembar kertas ukuran kecil dan ukuran lain yang lebih lebar, setelah selesai, maka kertas tersebut menjadi sampah. Kegiatan lain yang potensial menghasilkan sampah adalah makanan kecil di sekolah atau biasa disebut jajanan. Faktanya hampir jajanan yang dikonsumsi siswa mempunyai bungkus atau kemasan warna warni, sehingga ketika jajan tersebut selesai dinikmati, bungkusnya adalah sampah. Pada sekolah tertentu, jenis jajan memang ditentukan jenis, bahan, dan penyajiannya, tapi tidak semua melakukan itu, sehingga lingkungan sekolah menjadi korban.

Tidak salah siswa mengerjakan tugas membutuhkan bahan-bahan pada masing-masing pelajaran. Tidak bijak juga sekolah melarang peredaran jajanan yang dikonsumsi siswa. Pesan penting yang perlu dipahami siswa adalah, bahwa sampah yang dihasilkan dalam kegiatan di sekolah harus dapat dikelola dengan baik. Siswa harus tahu bahwa sampah dalam volume tertentu akan mengganggu kegiatan belajar. Kegiatan pembelajaran di sekolah harus berjalan tanpa mengorbankan lingkungan. Keberadaan sampah harus menjadi inspirasi untuk menumbuhkan kesadaran siswa sehingga menjadi pribadi yang unggul, punya karakter jujur, bekerja keras, mampu berkompetisi, dan juga mencintai lingkungan.

Berkaitan dengan kurikulum 2013, keberadaan sampah di sekolah bisa menjadi objek menarik dalam menerapkan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPS dengan menggunakan pendekatan saintifik yang mendorong siswa mencintai lingkungan. Ini selaras dengan tujuan kurikulum 2013, yaitu mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Bencana Lingkungan Akibat Sampah

Siswa perlu diajak memahami dampak keberadaan sampah jika tidak dikelola dengan baik. Bayangkan saja jika dalam satu minggu sampah di sekolah tidak dibersihkan, apa yang akan terjadi?. Dampak langsung keberadaan sampah adalah baunya tidak enak dan bisa mengganggu kesehatan. Tumpukan sampah juga merusak keindahan kota. Bandung sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia pernah mengalami problem tumpukan sampah, sehingga merusak daya tarik kota tersebut. Keluhan masyarakat peduli Bandung sempat menghiasi halaman depan surat kabar nasional, ini karena kecintaan mereka terhadap kota tersebut yang tidak rela kota yang mereka kagumi dirusak oleh tumpukan sampah. Lebih berat lagi sampah yang menutup saluran air menjadi satu penyebab timbulnyabanjir karena laju air tidak lancar. Banjir akibat keteledoran mansuaia dalam memperlakukan sampah merupakan contoh bencana lingkunganyang hampir tiap tahun melanda kota-kota di Indonesia.

Pasal 1 UU No. 24 tahun 2007 menegaskan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Sekilas, peran manusia tidak nampak sebagai salah satu penyebab atau faktor terjadinya bencana alam karena fenomena yang nampak adalah peristiwa alamiah, yaitu peristiwa yang dianggap sebagai proses keseimbangan alam dari satu fase menuju ke fase lain sampai berhenti pada titik keseimbangan sambil terus berproses menuju keseimbangan berikutnya. Inilah yang menunjukkan seolah-olah bencana adalah peristiwa alam yang tidak berkaitan dengan aktivitas manusia.

Untuk mengantisipasi pemahaman tersebut, perlu dilaksanakan upaya pemahaman bagi kita semua bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (UU No. No. 32 tahun 2009). Perlu ditekankan bahwa aktivitas manusia tidak bisa terlepas atau melepaskan diri dari lingkungan. Sekecil apapun dampak yang ditimbulkan aktivitas manusia, pada fase tertentu akan mempengaruhi alam itu sendiri, dan pada tahapan beikutnya akan berdampak kembali pada manusia. Jadi, apa yang menimpa manusia, pada peristiwa tertentu adalah akibat ulas manusia itu sendiri.

Diperlukan daya dukung lingkungan dalam mengakomodasi aktivitas manusia sehingga alam mempunyai kemampuan untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Sayangnya, daya dukung lingkungan mempunyai keterbatasan. Pada titik tertentu alam akan menyerah dan tidak berdaya mendukung aktivitas manusia, maka muncullah bencana lingkungan yang sumber awalnya adalah keinginan manusia memenuhi kebutuhan yang tidak ada batasnya sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan.

UU No. 32 tahun 2009 menyebutkan bahwa pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan, sedangkan kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung dan/atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Siswa perlu diberi pemahaman bahwa sampah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia adalah wujud pencemaran lingkungan. Guru harus kreatif mengemas materi pelajaran dengan menjadikan sampah sebagai objek pembahasansehingga mendorong siswa mencintai lingkungan.

Teknologi Pengolahan Sampah

Berdasarkan pengamatan, beberapa sekolah mengelola sampah dengan cara dibakar di halaman belakang atau dimasukkan pada lubang yang sudah disiapkan di halaman. Ada juga sekolah yang menggunakan jasa pihak ketiga untuk mengolah sampah, lebih tepatnya memindahkan sampah dari sekolah ke lokasi lain yang dikelola pemerintah atau pihak swasta. Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna, apapun itu, baik benda maupun manusia, sehingga sering kita mendengar pesan jangan menjadi sampah masyarakat, yang artinya kurang lebih “tidak berguna” di tengah masyarakat.

Menurut UU No. 18 tahun 2008 sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengertian tersebut tidak membatasi siapa yang layak disebut sebagai pihak penghasil sampah, karena bisa dihasilkan oleh manusia, maupun oleh alam. Oleh manusia contohnya adalah memproduksi sesuatu ada bahan-bahannya, dan sisa produksi yang tidak berguna disebut sampah. Aktivitas lain yang menghasilkan sampah tidak bisa dibatasi. Proses alam juga menghasilkan sampah, tanaman yang tumbuh pada waktu tertentu daun dan batang pohonnya mengering dan jatuh, itu disebut sampah.

Sumber penghasil sampah di Indonesia sebagian besar berasal dari perumahan (70-75%) dan (25-30%) berasal dari non perumahan (WBIO, 2003 dalam Rahman2011). Secara umum komposisi sampah terdiri dari jenis organik, kertas, plastik, gelas, logam dan lain-lain. Sampah di Indonesia rata-rata masuk dalam kategori sampah basah yang dengan kandungan organik cukup tinggi (70-80%) dan anorganiknya (20-30%) serta memiliki kadar air 60%, berat jenis rata-rata 250 kg/m3 serta nilai kalor (1.100-1.500) k.cal/kg. Sampah ini akan terdekomposisi menjadi bentuk padat, cair dan gas.

Perlu usaha keras mengelola sampah yang  melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari hulu kehilir. UU No. 18 tahun 2008, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pasal 3 menyebutkan pengelolaan sampah diselenggarakan berdasarkan asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas manfaat, asas keadilan, asas kesadaran, asas kebersamaan, asas keselamatan, asas keamanan, dan asas nilai ekonomi. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Karena usaha sistematis maka pengelolaan sampah harus berdasarkan perencanaan yang baik, penganggaran cukup, dan kebijakan yang jelas dari masyarakat terkait agar tidak salah. Penerapan ilmu pengetahuan dan tenologi juga perlu mendapat perhatian agar pengelolaan sampah betul-betul sesuai tujuan utama, yaitu menjaga kesehatan masyarakat.

Beragam teknologi pengolahan sampah yang dapat dikenalkan kepada siswa, baik secara teoritis maupun melihat secara langsung. Menurut Mclanaghan, 2002 dalam Rahman (2011), beberapa kategori teknologi pengelolaan yang terdiri dari biological (Anaerobic Digestion dan Composting), Mechanical Material Recover Facilities (MRF), Thermal (Advance Thermal Treatment dan Incenerationserta, dan HybridBio Mechanical Treatment.

Sistem pengolahan dan pembuangan sampah yang telah dikenal yaitu penimbunan sampah, penimbunan sampah sehat, pembakaran sampah, penghancuran sampah, pemanfaatan ulang, dan pembuatan sampah menjadi kompos.

  1. Penimbunan sampah, yaitu menempatkan sampah pada tempat yang rendah, kemudian menimbunnya dengan tanah. Keuntungan cara ini adalahmeratakan tanah yang sebelumnya tidak rata, dan sampah hasil timbunan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.Upaya tersebut tidak begitu sulit, misalnya penimbunan sampah rumah tangga yang hanya sedikit. Tapi bila jumlah sampah sangat banyak seperti yang terkumpul di kota-kota besar, maka pekerjaan ini membutuhkan perhatian ekstra yang memerlukan perencanaan, peralatan, dan pelaksanaan yang cermat.
  2. Penimbunan tanah sehat (Sanitary Landfill), yaitu penimbunan sampah dengan cara sampah dibuang dan dibiarkan menumpuk/menggunung. Setelah mencapai ketinggian yang diinginkan, permukaan atasnya ditimbun tanah setebal kurang lebih 60 cm. Cara ini membutuhkan biaya yang cukup besar, namun manfaatnya yaitu sampah yang telah ditimbun tersebut tidak merugikan dan aman bagi kesehatan manusia dan lingkungannya.
  3. Pembakaran sampah (Incineration), yaitu pembakaran sampah pada suatu tempat, misalnya pada tanah lapang yang jauh dari segala kegiatan agar tidak mengganggu. Namun pembakaran seperti ini sulit dikendalikan, karena apabila tertiup angin kencang maka sampah, arang sampah, asap, debu, dan abu dapat terbawa ke tempat-tempat sekitarnya, sehingga dapat menimbulkan gangguan. Pembakaran yang paling baik dikerjakan pada suatu instalasi pembakaran, karena dapat diatur prosesnya sehingga tidak mengganggu lingkungan. Tetapi pembakaran dengan cara ini membutuhkan biaya operasi yang mahal.
  4. Penghancuran (Pulverisation), yaitu  menghancurkan sampah menjadi potongan-potongan kecil yang lebih ringkas oleh mobil pengumpul sampah yang dilengkapi dengan alat pelumat sampah. Potongan-potongan sampah yang telah dihancurkan tersebut dapat digunakan untuk menimbun tanah rendah dan dapat juga dibuang ke laut tanpa menimbulkan pencemaran.
  5. Pemanfaatan ulang (Recycling), yaitu sampah yang masih bisa diolah kembali dipungut dan dikumpulkan; misalnya kertas, pecahan kaca, botol bekas, logam-logam, dan potongan plastik. Kemudian sampah yang telah dikumpulkan tersebut diolah lagi menjadi karton, kardus pembungkus, alat-alat dan perangkat rumah tangga dari plastik dan kaca.
  6. Pembuatan Kompos (Composting), yaitu proses pengolahan sampah organik menjadi kompos melalui beberapa langkah. Pengomposan dapat dilakukan dalam skala rumah tangga sampai skala yang lebih besar. Jika menginginkan proses komposting lebih cepat, bisa menggunakan zat pengurai yang banyak dijual. Keuntungan komposting adalah, kompos yang dihasilkan dapat digunakan sebagai media tanam.

 

Strategi Pengenalan Pengelolaan Sampah dalam Pembelajaran

Strategi adalah Suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien, dalam pengertian ada yang menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah Suatu set materi dan prosedur pembalajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Strategi pembelajaran berbeda dengan metode pembelajaran, yaitu Upaya mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (a way in achieving something). Berbeda lagi dengan pendekatan, titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Contoh, pendekatan yang berpusat pada guru (teacher –centred approaches) menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau ekspositori. Pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centred approaches) menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inquiri serta strategi pembelajaran induktif. Dalam tulisan ini tidak mendiskusikan ketigak hal tersebut, karena tekanan tulisan ini adalah bagaimana keberadaan sampah yang ada di sekolah justru bisa menginspirasi guru dalam pembelajaran untuk mendorong siswa mencintai lingkungan.

Menurut UU No. 20 tahun 2003, tujuan Pendidikan Nasional adalah “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi Warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Manusia Indonesia yang diharapkan adalah manusia yang sesuai dengan pasal 1 UU No. 20 tahun 20113 adalah manusia yang bermartabat yang tidak tercerabut dari akar kebudayaan. Sunaryo Kartadinata (dalam Mamat Supriyatna,2014), menegaskan  ada empat kaidah mendasar yang dapat diidentifikasi dalam kandungann asal 1 tersebut, yaitu:

  1. Landasan filosofis Pendidikan Nasionaladalah Pancasila dengan bertolak pada keyakinan bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara, Falsafah Negara, dan Way of life bangsa Indonesia tetap mengandung nilai dasar yang relevan dengan proses kehidupan dan perkembangan berbangsa dan bernegara, dan memiliki landasan eksistensial yang kokoh baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis yang dibangun melalui kajian ilmiah, filosofis, kultural dan pedagogis andragogis dengan berorientasi kepada prinsip belajar sepanjang hayat.
  2. UUD 1945 sebagai dasar Pendidikan Nasional mengandung arti penyelenggaraan Pendidikan Nasional harus bermuara untuk pembangunan bangsa dan negara.
  3. Nilai agama dan budaya menjadi nilai-nilai dasar pendidikan tetapi sekaligus sebagai nilai-nilai yang harus dikembangkan melalui pendidikan dalam konteks pencapaian tujuan utuh Pendidikan Nasional. Keragaman Indonesia yang berbeda dengan negara lain merupakan peluang mengembangkan etnopedagogik untuk memperkuat demokrasi dan menumbuhkan partisipasi seluruh warga negara dalam pembangunan bangsa.
  4. Pembangunan harus tanggap terhadap perubahan zaman, menegaskan bahwa pendidikan harus berorientasi masa depan dan membangun masyarakat Indonesia masa depan yang memiliki daya saing dan daya keberlanjutan yang kokoh melalui penguasaan hardskilldan Karakter tersebut harus berakar pada kultur sendiri dengan cara mengembangkan, memperbaiki, mengubah dan jika perlu melakukan terapi kultural atas nilai-nilai yang tidak mendukung pembentukan karakter.

Mencintai lingkungan merupakan bagian dari karakter yang perlu dikembangkan karena kecintaan terhadap lingkungan merupakan perwujudan cinta tanah air, dan menunjukkan kebanggan sebagai masyarakat Indonesia yang bermartabat.

Skenario pembelajaran pengenalan pengolahan sampah dapat dilakukan di dalam maupun di luar kelas. Di dalam kelas pengenalan pengelolaan sampah dilakukan melalui pembelajaran normal dengan mengacu pada rekomendasi pembelajaran sesuai kurikulum 2013 menggunakan pendekatan sintifik.

Berdasarkan Permendikbud No. 68 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs, Kompetensi Inti Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) merupakan tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dimiliki seorang peserta didik SMP/MTs pada setiap tingkat kelas. Kompetensi inti dirancang untuk setiap kelas. Melalui kompetensi inti, sinkronisasi horisontal berbagai kompetensi dasar antarmata pelajaran pada kelas yang sama dapat dijaga. Selain itu sinkronisasi vertikal berbagai kompetensi dasar pada mata pelajaran  yang sama pada kelas yang berbeda dapat dijaga pula. Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai berikut:

  1. Kompetensi Inti-1 (KI-1) untuk kompetensi inti sikap spiritual;
  2. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
  3. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan; dan
  4. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.

Pada mata pelajaran IPS Kompetensi Inti (KI) terdiri dari  a) menghargai dan menghayati ajaran agama yang  dianutnya, b) menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya, c) memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata, dan d) mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori. Guru dapat memilih KI dan KD yang sesuai dengan topik pengelolaan sampah.

Berdasarkan sosialisasi kurikulum 2013, materi IPS disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi. Menggunakan Geografi sebagai platform kajian dengan pertimbangan semua kejadian dan kegiatan terikat dengan lokasi. Tujuannya adalah menekankan pentingnya konektivitas ruang dalam memperkokoh NKRI. Kajian sejarah, sosiologi, budaya, dan ekonomi disajikan untuk mendukung terbentuknya konektivitas yang lebih kokoh. Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan wawasan terpadu antar mata kajian tersebut sehingga siswa dapat memahami pentingnya keterpaduan antar mata kajian tersebut sebelum mendalaminya secara terpisah dan lebih mendalam pada jenjang selanjutnya. Pendekatan pembelajaran yang direkomendasikan adalah pendekatan saintifik yang terdiri dari aktivitas mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan atau disebut 5M.

Aktivitas mengamati dilakukan dengan modal berpikir (bila perlu berpikir tingkat tinggi). Aktivitas ini cenderung dipengaruhi oleh persepsi dan latar belakang keilmuan seorang pengamat. Aktivitas mengamati bersifat multi indrawi. Jadi, mengamati tidak cukup hanya dilakukan dengan mata, bahkan dapat dilanjutkan dengan memberi perlakuan pada sesuatu yang diamati. Siswa diajak mengamati hal-hal yang berkaitan dengan sampah, jika sekolah mempunyai peralatan lengkap, maka guru dapat menyajikan video yang berhubungan dengan sampah untuk diamati siswa. Guru juga bisa menyajikan gambar atau bacaan koran yang membahas sampah.

Menanya adalah aktivitas lanjut dari pengamatan. Keduanya dapat dikatakan berhubungan secara kausalitas/sebab akibat. Menanya dalam hal ini diupayakan sebagai aktivitas pembelajar daripada pengajar. Aktivitas menanya sangat beragam, mulai dari pertanyaan faktual sampai eksploratif. Kualitas pengamatan akan berkait erat dengan kualitas pertanyaan. Pengamatan yang hebat dapat menghasilkan pertanyaan yang berkualitas. Hal ini amat bermanfaat untuk perkembangan tingkat berpikir siswa. Siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan seputar sampah, dari sederhana sampai yang bersifat analitis. Guru juga bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dengan topik sampah. Hendaknya pertanyaan guru bersifat produktif dan terbuka. Pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang mendorong siswa melakukan sesuatu untuk menghasilkan jawaban, adapun pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mendorong siswa menemukan jawaban benar lebih dari satu.

Aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan mengomunikasikan informasi amat bergantung pada kreativitas guru terutama dalam beberapa hal, seperti memberi masalah, tugas yang bermutu, dan penyelidikan yang unggul. Dalam hal ini, sebaiknya dipertimbangkan dulu produk yang bagaimana yang akan dicapai. Pengomunikasian hasil pengumpulan dan analisis dapat diwujudkan dalam bentuk matrik, tulisan, atau produk lain yang merangsa ide kreatif siswa.

Pengenalan pengelolaan sampah dalam mata pelajaran IPS di dalam kelas cenderung teoritis, artinya aktivitas siswa lebih menekankan aspek kognitif. Namun dari aspek itu bisa dikembangkan dalam perilaku sehari-hari, yang diwujudkan dengan kebiasaan siswa membuang sampah pada tempatnya.

Pengenalan pengolahan sampah dalam pembelajaran juga dapat dilaksanakan di luar kelas atau outdoor study. Guru dapat mengajak siswa keluar lingkungan sekolah, baik pada jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. Penentuan pelaksanaan pada jam pelajaran maupun luar jam pelajaran harus memperhatikan aspek materi, waktu yang tersedia, alokasi dana yang memungkinkan, dan jarak lokasi yang akan dikunjungi. Materi pelajaran harus diidentifikasi secara cermat agar tidak salah mengalokasikan waktu, jangan sampai terjadi materi tersebut sebenarnya cukup dibahas di dalam kelas tapi dipaksakan dilaksankan di luar kelas. Waktu yang tersedia disesuaikan dengan pembagian jam pelajaran secara keseluruhan satu sekolah. Jangan sampai kegiatan outdoor study mengorbankan mata pelajaran lain. Kalau harus mengorbankan mata pelajaran lain harus dikoordinasikan dengan baik. Dana menjadi penting karena isyu ini sensitif. Jangan sampai kegiatan tersebut memberi beban berat bagi sekolah atau siswa. Perlu perhitungan cermat agar faktor dana tidak menjadi bahan pembicaraan yang tidak baik. Jarak antara lokasi dengan sekolah juga penting untuk menentukan alokasi waktu, biaya, dan bagaimana menuju lokasi tersebut.

Outdoor study dalam rangka pengenalan pengolahan sampah dapat dilakukan dengan mengunjungi lokasi atau kelompok masyarakat yang mengolah sampah, baik sampah organik maupun anorganik. Di beberapa wilayah sudah banyak keompok masyarakat yang peduli terhadap sampah, mereka secara swadaya berinisiatif mengolah sampah menjadi produk yang bernilai ekonomis dan berperan mengurangi dampak negatif sampah.

Guru dapat mengajak siswa mengunjungi lokasi tersebut untuk menyaksikan secara langsung bagaimana sampah diproses, dari pengumpulan, sortir, pengolahan, sampai tahapan pemanfaatan kembali. Siswa juga dapat melihat, bahkan secara aktif terlibat membuat kompos dai sampah organik.

Faktanya, beberapa sekolah yang membawa siswa mengunjungi lokasi pembuatan kompos menunjukkan siswa sangat antusias menyaksikan proses pembuatan kompos. Rumah kompos yang dikelola Badan Pengembang Konservasi Universitas Negeri Semarang beberapa kali menerima kunjungan siswa SD, SMP, dan SMA di wilayah Kota Semarang. Respon siswa sangat positif. Alasan utama karena siswa baru melihat proses pembuatan kompos secara langsung, dan ini menjadi pengalaman berharga bagi mereka.

Siswa dapat dikenalkan bahan-bahan pembuatan kompos, yaitu sampah organik yang ada di sekitar kampus atau sekolah, kemudia diajak memilah atau memisahkan sampah dari batu-batu, karena dikhawatirkan keberadaan atu dapat merusak meisn pencacah. Siswa juga diajak ikut mencacah sampah yang telah dikumpulkan agar lebih kecil ukurannya. Mencacah sampah organik tujuannya adalah agar waktu pengomposan bisa lebih cepat. Langkah berikutnya, siswa diajak mencampurkan bahan atau cairan bioaktivator atau bahan yang membantu mempercepat pengomposan. Setelah tercampur antara sampah dengan cairan tadi, maka langkah selanjutnya sampah dimasukkan ke dalam bak pengomposan, baik berupa bak beton maupun tempat lain yang sudah disediakan. Siswa dapat diajak berpartisipasi aktif. Kalau hanya menyaksikan, mungkin masih ada yang kurang, tapi dengan secara aktif terlibat akan menumbuhkan kesan yang berbeda.

Siswa juga dapat diajak mengunjungi lokasi pengolahan sampah anorganik. Sampah anorganik di beberapa wilayah disulap menjadi barang-banrang bernilai seni tinggi. Kemasan minuman misalnya dapat disulap menjadi tas belanja, cover meja, tas laptop, dompet, dan beragam produk lain. Bahan-bahan tersebut semua dapat ditemukan di kantin-kantin sekolah. Dengan menyaksikan loasi pengelolaan sampah tersebut siswa juga diberi tugas mengidentifikasi sampai menganalisis keberadaan sampah di sekolah.

Pasca kegiatan, siswa dapat diberi tantangan untuk membuat kompos di rumah masing-masing. Pembuatan kompos di rumah sangat mungkin dilakukan karena setiap rumah tangga menghasilkan sampah organik. Ada 3 katagori rumah tangga terkait pembuatan kompos, yaitu: katagori 1 rumah tangga yang memiliki lahan, katagori 2 rumah tangga memiliki lahan tapi terbatas, dan katagori 3 rumah tangga tidak mempunyai lahan.

Katagori 1, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Gali tanah sedalam 50-100 cm. Lubang dibuat dengan jarak minimal 10 meter dari sumur untuk menghindari tercemarnya sumur.
  • Isi lubang dengan sampah organik yang telah ditiriskan.
  • Tutup atau taburi sampah dengan tanah secara berkala untuk mengurangi bau.
  • Jika telah penuh, tutup lubang dengan tanah.
  • Setelah tiga bulan, lubang dapat digali. Hasil galian dapat digunakan sebagai kompos sedangkan lubangnya dapat digunakan untuk membuat kompos kembali.

Katagori 2, langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Sediakan drum atau sejenisnya.
  • Lubangi kecil-kecil bagian dasar drum untuk rembesan air dari sampah.
  • Tanam drum dengan kedalaman sekitar 10 cm dari permukaan tanah.
  • Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.
  • Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.
  • Bila terdapat kotoran hewan bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos.
  • Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama tiga bulan.
  • Keluarkan isi drum dan angin-anginkan selama 2 minggu. Kompos sudah dapat digunakan.

Katagori 3, langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Sediakan ember, pot, kaleng bekas, ataupun wadah lainnya.
  • Lubangi bagian dasar dan letakkan di wadah yang dapat menampung rembesan air dari dalamnya.
  • Masukkan sampah organik ke dalam wadah (drum) setiap hari.
  • Taburi dengan sedikit tanah, serbuk gergaji, atau kapur secara berkala.
  • Bila terdapat kotoran binatang bisa ditambahkan untuk meningkatkan kualitas kompos.
  • Setelah penuh, tutup drum dengan tanah dan diamkan selama dua bulan.
  • Wadah siap dijadikan pot dengan kompos di dalamnya sebagai media tanam.

Dari ketiga katagori tersebut, katagori 3 paling memungkinkan dibuat oleh siswa karena siswa hanya menyiapkan wadah yang tidak terlalu besar. Penyiapan wadah perlu mendapat bimbingan dari guru, jika perlu wadah dihias agar menghilangkan kesan jorok. Pembuatan kompos juga dapat dilakukan di sekolah dengan partisipasi siswa dan guru. Bahan baku sampah organik berasal dari daun-dauh yang berguguran atau sisa makanan yang berasal dari kantin sekolah. Guru atau pihak sekolah juga bisa menghadirkan pihak ketiga yang dianggap layak memberikan penyuluhan cara pembuatan kompos di sekolah.

Penutup

Mencintai lingkungan harus ditanamkan sejak dini dari lingkungan terkecil. Faktanya makna pendidikan selama ini disederhanakan pada pelaksanaan di sekolah, sehingga pendidikan diartikan sekolah. Mendiskusikan landasan pendidikan membutuhkan waktu dan tenaga yang besar. Jika pendidikan masih dipahami sebagai sekolah, maka manfaatkanlah ruang sekolah untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan, termasuk cinta lingkungan. Menanamkan nilai-nilai kebaikan dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat, termasuk guru di seluruh tingkatan kelas dan satuan pendidikan. Pengenalan pengolahan sampah bukan untuk menurunkan derajat siswa, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk melihat, mempraktekkan, dan mengidentifikasi sesuai batas kemampuan mereka untuk memperlakukan sampah secara bijak. Kecintaan terhadap lingkungan tidak bisa dipaksakan mendadak, tapi butuh waktu, kerja keras, dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, baik orang tua, masyarakat, maupun pemerintah.

Daftar Pustaka

Haikal Rahman.2011. Valuasi Ekonomi Alternatif Teknologi Pengelolaan Sampah Perkotaan. Jurnal QE Vol.01 – No.01

Mamat Supriatna. 2014. Problema Ontologis Pedagogik Transformatif Indonesia dalam membangun Keunggulan Bangsa. Makalah Seminar Nasional Forum Pimpinan Pascasarjana LPTKN Se-Indonesia “Membangun Negeri dalam Bingkai Kearifan Pendidikan Menuju Generasi 2045”.

Permendikbud Nomor 68 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMP/MTs

Recyclegreen.wordpress.com. Cara membuat kompos sederhana. diunduh tanggal 10 September 2014.

Undang-undang RI nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Undang-undang RI Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Undang-undang RI Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

USAID Prioritas. 2013. Modul Praktik yang baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Catatan:

Artikel dimuat dalam Proceedings International Seminar The Social Studies Contribution To Reach Periodic Environmental Education Into Stuning Generation 2045. Diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan IPS SPS Universitas Pendidikan Indonesia, ISSN: 2406-7725)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *