Kuliah Umum Dr.rer.nat. Muhammad Anggri Setiawan, M.Si dari Universitas Gajah Mada

 

 Peneliti erosi tanah dari Prodi Geografi Lingkungan, Universitas Gadjah Mada, M. Anggri Setiawan, mengatakan pada saat kejadian longsor curah hujan di wilayah wonosobo tersebut mencapai 75 milimeter per hari. Padahal dalam kondisi normal curah hujan berkisar 10 hingga 20 milimeter per hari.

Anggri mengatakan, di bagian atas tebing yang terdapat selokan di pinggir jalan, diperkirakan ada retakan yang telah tertutup sedimen. Saat curah hujan tinggi, air terus masuk ke dalam retakan karena tidak kuat menahan air maka tebing longsor.

Anggri yang kini sedang melakukan penelitian manajemen erosi di Desa Tieng ini mengatakan, wilayah tersebut memang rawan longsor terutama dilihat dari faktor geologi tanah yang ada merupakan endapan vulkanik dari Dieng berupa material lepas seperti pasir dan andesit sehingga mudah longsor.
“Kondisi tersebut berpotensi longsor cukup tinggi, apalagi ada getaran dari kendaraan seperti truk yang membawa beban berat sehingga menimbulkan gerakan tanah yang labil itu,” ujarnya.

Bencana tanah longsor  tersebut mengakibatkan sembilan rumah rusak berat akibat terkena longsoran dari tebing setinggi 50-60 meter. Sembilan rumah tersebut yakni milik Zainudin, Sahmudi, Muh Azis, Asngari, Bandini, Tusamin, Juariyah, Taziroh, dan Mukhzin.

Bencana tanah longsor itu juga mengakibatkan lima korban tewas, empat di antaranya meninggal di lokasi longsor karena tertimbun tanah, sedangkan seorang korban meninggal di Rumah Sakit Setjonegoro Wonosobo. Selain itu, ada satu korban bernama Wagisah yang diduga masih tertimbun dan kini dalam pencarian.

Sebagaian besar kawasan Dieng adalah kawasan lindung, yakni kawasan yang harus dilindungi dari kerusakan lingkungan. Ia mengajak penduduk kawasan Dieng memperbanyak tanaman yang tidak semusim, misalnya carica. Tanaman semusim memicu longsor. “Saya mendorong masyarakat memelihara tanaman yang ramah lingkungan,” .Hutan kerap didatangi tamu dari sejumlah universitas untuk penelitian.  Muhammad Anggri Setiawan, dosen program studi Geografi dan Ilmu Lingkungan Fakultas Geografi UGM adalah orang yang meneliti kawasan Dieng. Ia datang ke Dieng pada 2013-2016 untuk menyelesaikan disertasinya tentang manajemen risiko tanah di daerah aliran sungai Surayu hulu. Anggri mencari tahu penyebab erosi di Dieng. Gerakan Anggri mengajak penduduk menanam pohon mengatasi laju erosi tanah 10 hingga 15 persen. Menyelamatkan lingkungan dari erosi dan longsor menurut Anggri tidak cukup dengan menanam pohon. Tapi, usaha itu setidaknya menjadi solusi mengatasi kerusakan lingkungan. Anggri mengapresiasi kerja keras masarakat menghijaukan Dieng. Tidak semua orang mau melakukan konservasi yang tidak sebanding dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *