Mewujudkan Masyarakat Jawa Tengah yang Sehat, Sejahtera, dan Mandiri Melalui Penurunan Angka Kematian Ibu Melahirkan

Mewujudkan Masyarakat Jawa Tengah yang Sehat, Sejahtera, dan Mandiri

Melalui Penurunan Angka Kematian Ibu Melahirkan

 

Oleh:  Ariyani Indrayati

Email: ariyani.ideas@gmail.com

 

 

Demikianlah nulikan dari tema dalam Rapat Koordinasi daerah (Rakorda) bidang Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) Propinsi Jawa Tengah,Tahun 2017 yang diselenggarakan pada Selasa, 14 Maret 2017 di kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl.Pahlawan no.9, Kota Semarang. Penulis hadir dalam pertemuan tersebut sebagai salah satu mitra kerja dari Perguruan Tinggi. Para pemangku kepentingan yang hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari BKKBN, Dinas Kesehatan, PKK, Dharma Wanita, dan unsur lain termasuk mitra kerja dari Perguruan Tinggi, TNI/Polri yang selama ini turut andil dalam memajukan bangsa melalui Progran KKBPK.

Sesi panel didahului dengan pembicara dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah yang menyampaikan sasaran kinerja untuk memenuhi salah satu target kerja Upaya Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui program KB. Hal tersebut dirasa sangat mendesak untuk dilakukan, mengingat trend lima tahun terakhir menunujkkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan Angka Kematian Ibu (AKI) tertinggi di Asia Tenggara. Dari setiap 100.000 kelahiran hidup di Indonesia, terdapat 359 ibu yang meninggal dunia demi melahirkan bayi yang dikandungnya, (analisis SDKI 2012).

Penulis mendapatkan gambaran untuk kasus di Jawa Tengah dengan adanya data seri yang mengungkapkan bahwa  AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) pada 2014 dan 2015 sempat mengalami penurunan dibandingkan dengan data tahun 2012, (Profil Kesehatan Jawa Tengah).  Pada 2014 jumlah kematian ibu melahirkan di Jawa Tengah mencapai  711 kasus. Sementara pada 2015 jumlah kematian sebanyak 619 kasus. Jumlah tersebut, jika dikonversikan menjadi AKI (per 100.000 kelahiran hidup) angka tersebut masih juga tergolong tinggi. Sementara data terbaru, tahun 2016 masih tetap menghawatirkan karena hingga Mei ini angka kematian di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah masih tinggi.

Hal yang sangat mengejutkan diketahui setelah dilakukan analisis spasial dengan skala tingkat Kabupaten/Kota. Dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, kasus kematian ibu melahirkan yang paling banyak terdapat di Kabupaten Brebes, yaitu mencapai 32 kasus (per Januari-Mei 2016). Posisi kedua ditempati Kota Semarang dengan jumlah 20 kasus kematian atau 5 orang meninggal dunia setiap satu bulan. Hal ini sangat mengherankan, bahwa Kota Semarang memiliki kasus kematian ibu dan bayi yang cukup tinggi, padahal jumlah rumah sakit dan dokter spesialis kandungan di Kota Semarang (70 orang) termasuk sangat banyak.

Salah satu penyebabnya kematian ibu melahirkan kemungkinan adalah keterlambatan dalam  memutuskan kapan seorang ibu yang akan melahirkan harus di bawa ke rumah sakit. Penyebab kedua adalah kesiapan rumah sakit dalam hal penanganan yang kurang. Di Kota Semarang hanya ada dua rumah sakit yang menyiapkan dokter kandungan 24 jam. Yaitu RSUP dr. Kariadi Semarang dan RS Tugurejo Semarang. Sementara keberadaan dokter kandungan di rumah sakit lainnya hanya on call.

Kematian ibu melahirkan juga bisa terjadi setelah kelahiran. Dari 20 kasus kematian ibu melahirkan di Kota Semarang pada 2016, sebanyak 14 kasus meninggal dunia di masa nifas. Tak hanya itu, pembatasan perawatan pada saat ibu melahirkan yang menggunakan layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) juga menjadi sorotan. Pasien hanya mendapatkan perawatan selama tiga hari pasca melahirkan.

Beranjak dari temuan tersebut, penulis beranggapan bahwa kesiapan masyarakat untuk mengetahui tanda-tanda gangguan kehamilan menjadi kata kunci untuk dapat membuat keputusan yang tepat untuk segera membawa ibu yang akan melahirkan ke rumah sakit. Demikian juga perawatan pasca melahirkan pada masa nifas juga sangat penting untuk dilakukan. Pengetahuan, sikap dan tindakan kesiap-siagaan ini hanya dapat ditingkatkan melalui pendidikan, khususnya reproduksi sehat. Dalam hal inilah peranan seorang akademisi  (termasuk penulis) mendapatkan  tantangan yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *