Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Geografi Studi Fenomena Geosfer di Yogyakarta

Pada saat sekarang ini yang paling dibutuhkan dalam dunia kerja adalah individu yang memeiliki kualitas maupun kuantitas yang tinggi baik dari segi pengalaman kerja maupun kemampuan berpikir kritis untuk memecahkan setiap masalah yang dihadapi. Oleh karena itu, banyaknya pengalaman kerja akan membuat individu tersebut akan semakin berkembang baik dari segi kemampuan maupun berpikirnya.

Mahasiswa sebagai calon penerus generasi bangsa sangat dituntut untuk memiliki kemampuan yang memadai dalam memecahkan setiap permasalahan yang ada. kegiatan semacam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) sekarang bernama Studi Fenomena Geosfer akan sangat membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan tersebut. Melalui kegiatan Kuliah Kerja lapangan ini nantinya diharapkan tiap mahasiswa mampu mengaplikasikan semua teori yang telah didapat di bangku perkuliahan untuk diterapkan secara langsung di lapangan. Dengan kegiatan ini mahasiswa dituntut dapat mengembangkan kemampuan berpikir dalam memecahkan setiap permasalahan yang ada.

Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) II atau Studi Fenomena Geosfer ini mengambil tema” Kajian Karakteristik Geografi Sosial dan Geografi Fisik di Yogyakarta dan sekitarnya”. Kegiatan SFG ini akan mengkaji Daerah Objek Kajian dilihat dari kondisi fisik dan sosial ekonomi masyarakatnya serta faktor fisik yang juga ikut mempengaruhinya .

Salah satu Objek SFG adalah Museum Gunungapi ini dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan, penyebarluasan informasi aspek kegunungapian khususnya dan kebencanaan geologi lainnya yang bersifat rekreatif-edukatif untuk masyarakat luas dengan tujuan untuk memberikan wawasan dan pemahaman tentang aspek ilmiah, maupun sosial-budaya dan lain-lain yang berkaitan dengan gunungapi dan sumber kebencanaan geologi lainnya. Museum Gunungapi ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif sebagai sarana yang sangat penting dan potensial sebagai pusat layanan informasi kegunungapian dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat, serta sebagai media dalam meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang manfaat dan ancaman bahaya letusan gunungapi serta bencana geologi lainnya.

Informasi yang disampaikan di museum gunungapi diantaranya:

1. Informasi ilmiah kegunungapian, kegempaan dan gerakan tanah yang merupakan proses dinamika geologi, dicerminkan diantaranya dalam informasi model pembentukan, mekanisme terbentuknya maupun proses-proses yang menyertainya.
2. Informasi fenomena gunungapi terbentuk sebagai hasil proses-proses geologi, yang tampil dipermukaan bumi diantaranya berupa bentang alam gunungapi, struktur geologi gunungapi, produk hasil letusan gunungapi, dan produk-produk hasil proses lainnya.
3. Informasi mitigasi bencana gunungapi, gempabumi, tsunami, gerakan tanah yang ditampilkan dalam bentuk informasi sistem monitoring, penelitian dan pengamatan, sistem peringatan dini, dan upaya mitigasi bencana diantaranya menyangkut sistem penyelamatan masyarakat terhadap ancaman bahaya letusan gunungapi, kegempaan dan gerakan tanah.
4. Informasi sumberdaya gunungapi, sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat, pengembangan infra-struktur dan lainnya.
5. Informasi aspek sosial budaya diantaranya menyangkut kehidupan, budaya/tradisi, mitos dan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan dan keberadaan suatu gunungapi.

Perjalanan Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) dimulai pada tahun 2002 dengan dimulainya pembangunan Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis dengan semangat untuk memperkenalkan Badan Informasi Geospasial kepada semua lapisan masyarakat. Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis pada saat itu dikelola oleh lembaga pemerintah dan perguruan tinggi yaitu Badan Informasi Geospasial, Pemerintah Kabupaten Bantul dan Fakultas Geografi UGM. Dibangun pada lahan seluas 2 hektar, Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis difungsikan sebagai laboratorium alam gumuk pasir. Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis mempunyai peran sebagai pusat penelitian dan inovasi, tempat wisata edukasi, pusat pengembangan ilmu dan pengetahuan, sarana pemberdayaan masyarakat dan juga sebagai museum.

Sesuai dengan visi Badan Informasi Geospasial untuk menjadi lembaga penggerak dan terdepan dalam penyelenggaraan informasi geospasial yang andal, terintegrasi dan mudah dimanfaatkan, Laboratorium Geospasial Pesisir Parangtritis kemudian direvitalisasi menjadi Parangtritis Geomaritime Science Park. Berdirinya Parangtritis Geomaritime Science Park diresmikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 11 September 2015. Peresmian ini juga sekaligus menandai meningkatnya peran dan fungsi yang semula berupa Laboratorium Geospasial menjadi Geomaritime Science Park.

Nomenklatur Geomaritime digunakan sebagai suatu transdisiplin ilmu dalam upaya pengelolaan dan pemanfaatan sektor maritim dari sudut pandang spasial (keruangan) untuk kesejahteraan masyarakat pesisir pada khususnya. Konsep sebagai science park adalah kawasan yang dikelola oleh manajemen profesional untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui penguasaan, pengembangan, dan penerapan ilmu dan pengetahuan yang relevan.

Parangtritis Geomaritime Science Park mempunyai visi sebagai center of excellent for geospatial information technology, education, research and innovation di bidang kepesisiran dan kelautan di IndonesiaKomersialisasi hasil kolaboratif riset kepesisiran dan kelautan akan mendukung pertumbuhan perekonomian berkelanjutan di Indonesia, DIY, dan Kabupaten Bantul. Keberadaan Parangtritis Geomaritime Science Park dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah DIY dan Kabupaten Bantul sebagai sarana kembang tumbuh ekonomi masyarakat dalam bidang pariwisata, pertanian, kepesisiran dan kelautan. Parangtritis Geomaritime Science Park juga akan berfungsi sebagai pusat restorasi dan konservasi gumuk pasir serta pengembangan museum gumuk pasir sebagai sarana pendidikan dan penelitian.

Objek selanjutnya adalah Lava bantal terbentuk akibat dari erupsi atau lelehan lava (eruptions with relatively low effusion rates) yang bersentuhan langsung dengan air laut. Proses pembekuan yang tiba-tiba akibat kontak langsung dengan air laut menyebabkan bentukan mineralnya tidak terpilah dengan baik. Namun, tubuh lavanya membentuk geometri mirip bantal. Di sinilah masyarakat mengenal sebagai lava bantal (pillow lava).

Proses terbentuknya lava bantal, saat mengalir dan mengalami pendinginan serentak oleh air laut. Selanjutnya, bagian kulitnya langsung membeku dan tertahan tekanan hidrostatis. Karenanya, membentuk batuan beku membulat atau melonjong. Bentuknya bulat lonjong yang disebut lava bantal. Umumnya, berkomposisi basalt yang bersifat asam. Dari ciri-ciri fisiknya, lava bantal terbentuk pada zona pemekaran lantai samudera (sea floor spreading). Ini sebagai bagian kegiatan vulkanik bawah laut. Ciri fisik batuan ini membentuk pola bantal. Berwarna hitam, keras, bertekstur afanitik. Singkapan batuan lava bantal di Kali Muncar berwujud dinding lava hampir tegak. Karena mengalami pengangkatan dan pensesaran yang dicirikan adanya kekar dan cermin sesar sebagai konsekuensi dari aktivitas tektonik yang kuat.

Para Pakar Geologi pernah menentukan umur absolut menggunakan metoda radiometrik K/Ar. Batuan ini berumur 81 juta tahun atau terbentuk pada zaman Kapur Akhir. Batuan ini lebih muda dari batuan tertua yang ditemukan di pulau Jawa. Yakni, batuan metamorfik batu sekis mika di Kompleks Melange Luk Ulo yang berumur 117 juta tahun atau terbentuk pada zaman Kapur Awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *