EDUCATION OUTBOND MODEL DESIGN SEBAGAI PEMODELAN UNTUK PROGRESI EMOSIONAL DAN PENGEMBANGAN MENTAL ANAK TUNANETRA

Lu’lu’il Munawaroh1, Mitha Fitria Anggraini2, Nailul Itsna Afifah3, Andi Irwan Benardi4

Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

Abstract

The purpose of this research is 1) Development of emotional progress program and mental development of blind children. 2) Design Education Outbond Model Design in order to provide mental and emotional progression of children with visual impairment. This research was conducted in Semarang City State Extraordinary School. Using quantitative and qualitative research methods, based on the quantitative approach of frequency tables and qualitative triangulation and descriptive. The source of this research data comes from the primary data of informants who come from SLB Negeri Semarang students with visual impairment who have played Education Outbond Model Design, and teachers and parents of blind children about the activity responses that support the emotional and mental progression of the blind child. Secondary data on the special needs of blind children and actions that can improve mental and emotional progression. Technique of data acquisition in this research are: 1) Interview Technique 2) Quizoner Technique 3) Library Study Technique and 4) Documentation Technique. To cultivate emotional and mental development of children with visual impairment there needs to be guidance from people around their family especially to always ask blind children to do activities independently. Emotional progression program and mental development of blind children in SLB Semarang in the form of Mobility Orientation which is usually abbreviated as OM. The goal of this OM program, it is expected that blind children have confidence in their environment so that they can memprogresi emotional and mental development them. Based on the results of research can show the improvement of emotional and mental blind children after playing Education Outbond Model Design. The emotional and mental improvement of children with visual impairment is 27%. The average pre-test score is 59 and is sufficient. After playing Outbound Model Design the post-test score reaches 76 and is categorized well. From these results indicate that the Education Outbond Model Design can memprogresi emotional and mental development of children with visual impairment.

Keyword : Education Outbond Model Design, Progresi Emosional, Pengembangan Mental, Anak Tunanetra

 

Abstrak

 Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Pengembangan program progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra. 2) Desain Education Outbond Model Design agar dapat memberikan progresi mental dan emosial anak tunanetra. Penelitian ini dilakukan di Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Semarang. Dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, berdasarkan pendekatan kuantitatif tabel frekuensi dan kualitatif triangulasi dan deskriptif. Sumber data penelitian ini berasal dari data primer para informan yang berasal dari siswa SLB Negeri Semarang penyandang tunanetra yang telah bermain Education Outbond Model Design, serta guru dan orangtua anak tunanetra tentang tanggapan kegiatan yang mendukung progresi emosional dan mental anak tunanetra. Data sekunder mengenai kebutuhan-kebutuhan khusus anak tunanetra dan tindakan-tindakan yang dapat meningkatkan progresi mental dan emosial. Teknik perolehan data dalam penelitian ini berupa : 1) Teknik Wawancara 2) Teknik Kuisoner 3) Teknik Studi Pustaka dan 4) Teknik Dokumentasi. Untuk menumbuhkan emosional dan pengembangan mental anak tunanetra perlu adanya bimbingan dari orang sekitar khusunya keluarga mereka untuk selalu meminta anak tunanetra melakukan kegiatan secara mandiri. Program progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra di SLB Semarang  berupa Orientasi Mobilitas yang biasanya disingkat OM. Tujuan tercapainya program OM ini, diharapkan anak tunanetra memilik keprcayaan diri terhadap lingkungannya sehingga dapat memprogresi emosional dan pengembangan mental mereka. Berdasarkan hasil penelitian dapat menunjukkan adanya peningkatan emosional dan mental anak tunanetra setelah bermain Education Outbond Model Design. Kenaikan emosional dan mental anak tunanetra sebesar 27%. Rata-rata nilai pre-test adalah 59 dan termasuk kategori cukup. Setelah bermain Education Outbond Model Design nilai post-test mencapai 76 dan dikategori baik. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Education Outbond Model Design dapat  memprogresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra.

 Keyword : Education Outbond Model Design, Progresi Emosional, Pengembangan Mental, Anak Tunanetra

 

PENDAHULUAN

Tunanetra yaitu anak yang indera penglihatannya tidak berfungsi (blind/low vision) sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas (Desiningrum, 2016:7).

Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan anak yang awas. Keterhambatan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya, namun hal ini tetap dirasakan tidak efisien karena anak tunanetra tidak dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat. Akibatnya pola emosi yang ditampilkannya mungkin berbeda atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh diri maupun lingkungannya.

Untuk dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat  perlu adanya pembelajaran kecerdasan emosional sebagai progresi mental pada anak tunanetra. Reuven Bar On (Hein, 2006)  menyatakan bahwa kecerdasan emosi atau Emotional Intelligence (E.I) adalah susunan kecakapan non kognitif, kompetensi dan ketrampilan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Tidak hanya perkembangan emosi anak tunanetra yang terhambat. Kondisi mental mereka juga memiliki masalah. Menurut Thantaway (2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberikan keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat. Anak tunanetra akan memiliki kepercayaan diri yang rendah dibanding dengan anak yang awas. Adanya kekurang fisik tersebut, akan mengurangi kepercayaan diri mereka.

Hal tersebut adalah permasalahan dalam pembentukan emosi dan menta anak pada umumnya yang diderita oleh anak tunanetra. Padahal anak tunanetra berhak memiliki emosi dan mental yang baik, seperti kebahagiaan hidup dan kuat mental sesuai  umur yang sama. Untuk menumbuhkan emosional atau memperbaiki emosial serta mental anak tunanetra dengan keterbatasan dalam penglihatan yang menyulitkan mereka untuk mengembangkan diri, maka dari itu perlu adanya kegiatan untuk anak tunatera agar dapat meningkatkan emosial dan mental tersebut.

Kegiatan yang selalu dilakukan di dalam ruangan oleh anak tunanetra memberikan efek intovert dalam pengembangan emosi dan mental mereka. Sehingga perlu adanya kegiatan luar ruangan dapat memberikan efek progresi terhadap mental dan emosional anak tunanetra.  Kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan di taman bermain yang edukatif dan memperhatikan kebutuhan khusus penyandang tunanentra. Untuk mendukung kegiatan tersebut perlu adanya pemodelan taman bermain tersebut yang disebut  Education Outbond Model Design.

Tujuan dari penelitian ini adalah 1) Pengembangan program progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra. 2) Desain Education Outbond Model Design agar dapat memberikan progresi mental dan emosial maupun edukasi anak tunanetra.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Luar Biasa Negeri Kota Semarang. Pemilihan lokasi karena dalam SLB tersebut memiliki siswa tunanetra berjumlah 22 siswa dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas.

Fokus penelitian ini adalah pembuatan Education Outbond Model Design sebagai upaya untuk progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra. Pelaksanaannya melibatkan responden anak tunanetra, orangtua anak tunanetra dan guru SLB Negeri Kota Semarang terhadap kegiatan yang mendukung progresi emosional dan mental anak tunanetra, serta penerapan Education Outbond Model Design. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Dengan pendekatan kuantitatif tabel frekuensi dan kualitatif triangulasi dan deskriptif.

Sumber data penelitian ini berasal dari data primer para informan yang berasal dari siswa SLB Negeri Semarang penyandang tunanetra yang bisa membaca huruf braille dan telah mencoba Education Outbond Model Design, serta guru dan orangtua anak tunanetra tentang tanggapan kegiatan yang mendukung progresi emosional dan mental anak tunanetra. Dan juga data sekunder mengenai kebutuhan-kebutuhan khusus anak tunanetra dan tindakan-tindakan yang dapat meningkatkan progresi mental dan emosial maupun edukasi anak tunanetra.

Teknik perolehan data dalam penelitian ini berupa : 1) Teknik Wawancara 2) Teknik Kuisoner 3) Teknik Studi Pustaka dan 4) Teknik Dokumentasi. Untuk teknik analisis data dalam penelitian ini berupa : Analisis Deskriptif dan Analisis Modelling

 Gambar1. Diagram Alur Penelitian

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Pengembangan program progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra

 

Progresi emosional dan pengembangan metal anak tunanetra dapat terjadi ketika anak tunanetra dibimbing untuk selalu melakukan semua hal sendiri. Menurut Nur (40) orangtua anak tunanetra yang menyatakan ketika anak tunanetra selalu dibantu untuk melakukan berbagai hal karena keterbatasan tersebut, anak tunanetra akan sulit berkembang emosional dan mentalnya. Untuk itu perlu adanya pembiaran dalam melakukan berbagai tindakan secara mandiri untuk progresi emosional dan pengembangan metal mereka.

Menurut yehuda seorang guru di SLB Negeri Semarang pengembangan mental dan meningkatnya emosional anak tunanentra dapat diindikatorkan tumbuhnya kepercayaan diri terhadap lingkungannya. Dalam pengembangan mental anak tunanetra, SLB Semarang  memiliki program untuk menunjang pengembangan mental tersebut. Program tersebut adalah Orientasi Mobilitas yang biasanya disingkat OM. Program ini, anak tunanetra akan diberikan pembelajaran tentang orientasi jalan. Pembelajaran ini dapat dilakukan di dalam SLB maupun di Luar SLB. Tujuan tercapainya program OM ini, diharapkan anak tunanetra memilik keprcayaan diri terhadap lingkungannya dengan adanya berbagai pengalamannya sehingga dapat memprogresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra. Dalam menumbuhkan pengalaman di dalam ruangan sangat minim akan ilmunya karena media pembelajaran yang kurang. Untuk itu, perlu adanya kegiatan outbond, SLB mengagendakan adanya OM yang dilaksanakan di luar ruangan atau outbond.

Dalam kegiatan OM outbond ini biasanya dilaksanakan di tempat-tempat wisata. Kegiatan Outbond anak tunanetra akan diberikan berbagai pengalaman, seperti ketika kegiatan Outbond ke pantai anak tunanetra akan diberikan pengalaman meraba pasir yang ada di pantai yang belum pernah sama sekali merasakannya. Untuk itu, semakin banyak pengalaman anak tuna netra, maka semakin cepat juga pengembangan kepercayaan diri yang timbul pada diri mereka sehingga terjadi progresi mental mereka.

Permasalahan dalam kegiatan outbond ini, SLB dipastikan akan mengeluarkan dana yang banyak. Untuk itu, dengan adanya Education Outbond Model Design dapat membantu mengurangi dana untuk kegiatan outbond yang selalu dilakukan di luar SLB. Adanya Education Outbond Model Design kegiatan outbond bisa dilakukan di dalam lingkup SLB dan secara mendiri oleh anak tunanetra.

Desain Education Outbond Model Design agar dapat memberikan progresi mental dan emosial maupun edukasi anak tunanetra.

 

Konsep dari Education Outbound Model Design yang Tim PKM-PSH gunakan adalah dengan menggunakan permaianan ular tangga. Permainan ular tangga ini dilengkapi dengan huruf braile sehingga dapat membantu anak – anak tunanetra dalam permainan. Permainan ini bukanlah permainan di atas papan pada ular tangga yang pada umumnya, namun konsepnya adalah membuat anak tunanetra tersebut ikut berpartisipasi dalam permainan tersebut atau sebagai pemain sekaligus pionnya jadi dapat dikatakan bahwa permainan ini adalah permainan ular tangga dalam skala yang besar.

Untuk bidangnya kami menggunakan alas busa. Hal ini ditinjau dari segi keamanan bagi anak tunanrta itu sendiri, sehingga ketika pada saat permainan nanti apabila terjadi persimpangan dan menyebabkan  tubrukan yang hingga membuatnya jatuh anak tunanetra tersebut masih tetap aman. Untuk pembatas setiap kotaknya kami menggunakan tali tambang yang kecil untuk memberikan tanda pemisah dari satu kotak dengan kotak yang lain. Dan untuk penulisannya digunakan huruf braile jadi dalam permainan ini pemain diharuskan dapat membaca huruf braile. Pada setiap kotak yang terdapat ular mau tangga terpasang audio yang mengingatkat anak tunanetra tersebut naik maupun turun dari kotakan tersebut ke kotakan yang lain.

 

Kekurangan

Kekurangan dari Education Outbond Model Design

  1. Membutuhkan pengawasan.
  2. Pemain harus dapat membaca huruf braille.

 

kelebihan :

 

  1. Belajar berhitung dengan metode permainan.
  2. Menajamkan daya ingat.
  3. Meningkatkan motorik anak tunanetra.
  4. Melatih kesabaran karena menunggu pemain lain.
  5. Belajar penjumlahan dan pengurangan dengan permainan.
  6. Mengurangi anggaran dana yang dikeluarkan untuk kegiatan outbond ke tempat wisata.

 

Gambar 2. Maket Education Outbound Model Design

 

Pada analisis progresi emosional dan mental anak tunantra, Tim PKM-PSH melakukan penelitian progresi emosional dan mental anak tunanetra setelah bermain Education Outbond Model Design. Adanya pre-test  sebelum mencoba Education Outbond Model Design dan diadakannya post-test setelah bermain, maka diperoleh data hasil pre-test dan post-test yang memberikan hasil progresi emosional dan mental anak tunantra.

 

Dengan menggunakan rumus N=Sx10 diperoleh nilai masing-masing responden, baik pada nilai pre-test dan post-test. Untuk indikator peningkatan emosional penelitian ini menggunakan batasan kepercayaan diri anak untuk memperoleh tingkat emosional dari Afiatin dan Martaniah (2005:67-69) yang merumuskan beberapa indikator dari Lauster dan Guilford.  Dan untuk indikator pengembangan emosional menggunakan batasan kemandirian anak tunanetra dari indikator Demista (2009:185). Nilai-nilai tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

 

No. Nama Responden Nilai Pre-Test Nilai Post-Test
1 VCO 60 80
2 VZ 60 70
3 SAP 70 80
4 F 60 80
5 FK 70 80
6 LKI 50 60
7 MK 40 70
8 MSL 50 90
9 KRT 60 70
10 PRT 70 80
Jumlah 590 760
Rata-rata 59 76
Nilai Maksimum 70 90
Nilai Minimum 40 60

Tabel 1. Nilai pre-test dan post-test

 

Dari tabel di atas menunjukan bahwa nilai tertinngi yang diperoleh oleh responden saat pre-test adalah 70 sedangkan untuk nilai terendah adalah 40 dengan rata-rata 59. Untuk post-test  nilai tertinggi adalah 90 dan nila terendah 60 dengan rata-rata 76.

 

Nilai Rata-Rata Angka Kategori Jumlah Persentase (%)
80< N ≤ 100 Baik Sekali 0 0
60 < N ≤ 80 Baik 3 30
40 < N ≤ 60 Cukup 6 60
20< N ≤ 40 Buruk 1 10
0< N ≤20 Sangat Buruk 0 0
Jumlah 10 100

Tabel 2. Persentase hasil penelitian pada pre-test

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat emosional dan mental anak tunanetra 30% memilki emosional dan mental yang baik, 60% memiliki emosional dan mental yang cukup. Dan 10% memiliki mental dan emosional yang buruk.

 

Nilai Rata-Rata Angka Kategori Jumlah Persentase (%)
80< N ≤ 100 Baik Sekali 1 10
60 < N ≤ 80 Baik 8 80
40 < N ≤ 60 Cukup 1 10
20< N ≤ 40 Buruk 0 0
0< N ≤20 Sangat Buruk 0 0
Jumlah 10 100

Tabel 3. Persentase hasil penelitian pada post-test

 

Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat emosional dan mental anak tunanetra setelah mencoba Education Outbond Model Design 80% menjadi memilki emosional dan mental yang baik, 10% memilki emosional dan mental yang cukup. Dan 10% memiliki mental dan emosional sangat baik.

 

Dari hasil skor di atas menunjukkan adanya peningkatan emosional dan mental anak tunanetra setelah bermain Education Outbond Model Design. Kenaikan emosional dan mental anak tunanetra sebesar 27%. Rata-rata nilai pre-test adalah 59 dan termasuk kategori cukup. Setelah bermain Education Outbond Model Design nilai post-test mencapai 76 dan kategori baik. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Education Outbond Model Design dapat melakukan progresi emosional dan mental anak tunanetra.

Gambar 3. Bermain Education Outbound Model Design

 

SIMPULAN

Untuk menumbuhkan emosional dan pengembangan mental anak tunanetra perlu adanya bimbingan dari orang sekitar khusunya keluarga mereka untuk selalu meminta anak tunanetra melakukan semua hal atau kegiatan secara mandiri. Sedangkan untuk program progresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra di SLB Semarang  berupa Orientasi Mobilitas yang biasanya disingkat OM. Program ini, pembelajaran dilakukan di dalam SLB maupun di Luar SLB. Tujuan tercapainya program OM ini, diharapkan anak tunanetra memilik keprcayaan diri terhadap lingkungannya sehingga dapat memprogresi emosional dan pengembangan mental mereka. Dalam kegiatan OM outbond ini biasanya dilaksanakan di tempat-tempat wisata. Dalam kegiatan outbond ini, SLB dipastikan akan mengeluarkan dana yang banyak. Untuk itu, dengan adanya Education Outbond Model Design dapat membantu mengurangi dana untuk kegiatan outbond yang selalu dilakukan di luar SLB. Adanya Education Outbond Model Design kegiatan outbond bisa dilakukan di dalam SLB dan secara mendiri oleh anak tunanetra.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat menunjukkan adanya peningkatan emosional dan mental anak tunanetra setelah bermain Education Outbond Model Design. Kenaikan emosional dan mental anak tunanetra sebesar 27%. Rata-rata nilai pre-test adalah 59 dan termasuk kategori cukup. Setelah bermain Education Outbond Model Design nilai post-test mencapai 76 dan dikategori baik. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Education Outbond Model Design dapat  memprogresi emosional dan pengembangan mental anak tunanetra.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Afiatin,T, dan Martaniah,SM. 2005. Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja Melalui Konseling Group : Jurnal Psikologi No 6 Thn III:66-79

Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung : PT Remaja  Rosdakarya

Desiningrum, Dinie Ratri. 2016. Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Psikosain.

Hein, S., 2006. Introduction to Emotional Intelligence. Wayne Payne’s 1985 Doctoral Paper on Emotions & Emotional Intelligence. http:/eqi.org/sph test l.htm. accessed 02/02/2006

Thantaway. 2005.  Kamus Istilah Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: Kanisius.

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas:

Skip to toolbar