INTERAKSI LIMA BUDAYA SUKU BUGIS, BAJAU, MADURA,MANDAR DAN JAWA DI PULAU KARIMUNJAWA MENGGUNAKAN ANALISIS GEOGRAFI SOSIAL BUDAYA

Nailul Itsna Afifah, Mochammad Andhika Reza Pratama, Rena Kusrina Dayati,
Andi Irwan Benardi

Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini : 1) Mengetahui interaksi kehidupan antar kelima suku Bajau, Bugis, Madura, Mandar dan Jawa dalam film lintas budaya. 2) Mengetahui hubungan budaya kelima suku Bajau, Bugis, Madura, Mandar dan Jawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa analisis kualitatif dengan objek kajian berupa lima suku di Pulau Karimunjawa. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwasanya antar kelima suku yang mendiami Pulau Karimunjawa berjalan beriringan tanpa konflik antar suku, dan hal itu disebabkan oleh tingginya rasa persatuan antar masyarakat masing-masing suku di Pulau Karimunjawa.

 

ABSTRACT

The purpose of this research: 1) To know the interaction of life among the five tribes Bajau, Bugis, Madura, Mandar and Java in cross cultural film. 2) Knowing the cultural relations of the five tribes Bajau, Bugis, Madurese, Mandar and Java in the life of nation and state. The method used in this research is a qualitative analysis with the object of study in the form of five tribes in Karimunjawa Island. Based on the results of research obtained results that between the five tribes that inhabit Karimunjawa island go hand in hand without the conflict between tribes, and it is caused by the high sense of unity among the respective tribal communities in Karimunjawa Island.

 

PENDAHULUAN

Bangsa Indonesia terdiri dari beragam kebudayaan yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Jika kita merujuk kepada konvensi UNESCO 2005 (Convention on The Protection and Promotion of The Diversity of Cultural Expressions) tentang keragaman budaya atau “cultural diversity”, cultural diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada didaerah tersebut.

Secara Geografis Kepulauan Karimun Jawa terletak antara 5′ 40″ – 5′ 57″ LS dan 110′ 4″ – 110′ 40″ BT, berada di perairan Laut Jawa yang jaraknya  ± 45 mil laut dari kota Jepara, termasuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Dati II Jepara. Kepulauan Karimun Jawa memiliki luas 107.225 ha, yang terdiri dari lautan seluas 100.105 ha, dan daratan seluas 7.120 ha yang tersebar di 27 pulau. Dari 27 pulau tersebut, 5 diantaranya telah berpenghuni yaitu P. Karimunjawa, P. Kemujan, P. Parang, P. Nyamuk dan P.Genting.

 

Persebaran suku di Pulau Krimunjawa terdiri dari berbagai suku bangsa. Di Pulau Karimunjawa sendiri persebaran Masyarakat Jawa berada di Desa Karimunjawa, Kemojan, Nyamuk dan Parang. Mereka merupakan penduduk pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia termasuk penduduk Jawa timur, Jawa tengah dan  Jawa Barat yang  bermigrasi dan akhirnya menetap di Karimunjawa. Pindahan dari berbagai wilayah tersebut didominasi berasal dari suku jawa.

 

Berdasarkan Penelitian Sukari (2005) Penduduk yang menempati Pulau Karimunjawa terdiri dari 6 suku bangsa yaitu Jawa, Bugis-Makasar, Madura, Buton, Mandar dan Bajau. Dari suku bangsa tersebut yang paling banyak suku bangsa Jawa dan Bugis-Makasar. Kedua suku bangsa ini mempunyai latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang berbeda.

Dari uraian latar belakang diatas, perlu dikaji kebudayaan di Pulau Karimunjawa dalam memperkaya dan dalam mengembangkan  daerah Pulau Karimunjawa sebagai contoh daerah yang memiliki rasa toleransi tinggi dengan judul Penelitian: “Interaksi Lima Budaya Suku Bugis, Bajau, Madura,Mandar  Dan Jawa Di Pulau Karimunjawa Menggunakan Analisis Geografi Sosial Budaya”. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui interaksi kehidupan antar kelima suku Bajau, Bugis, Madura, Mandar dan Jawa dalam film lintas budaya. 2) Mengetahui hubungan budaya kelima suku Bajau, Bugis, Madura, Mandar dan Jawa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3) Mengetahui kelima suku Bajau, Bugis, Madura, Mandar dan Jawa dengan analisis Geografi Sosial Budaya.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa analisis kualitatif dengan objek kajian berupa lima suku di Pulau Karimunjawa. Populasi dalam penelitian ini berupa masyarakat dalam 5 suku (Bajau, Mandar, Madura, Bugis dan Jawa) di Pulau Karimunjawa. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berupa tokoh masyarakat dari masing masing suku yang total berjumlah 15 responden.Selain itu, metode yang digunakan dalam penelitan ini juga berupa dokumentasi dan pemetaan kelima suku di Pulau Karimunjawa guna memperkuat hasil penelitian.

Tahapan yang digumakan dalam penelitian ini meliputi: Tahap Persiapan (1), Tahap pengumpulan Data (2), Tahap Pengolahan Data (3), Tahap Analisis (4), Pembuatan Laporan(5).

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Kebudayaan Suku Bugis dan Mandar

            Suku Bugis dan Suku Mandar pada dasarnya merupakan masih dalam satu kesatuan suku yang sama dan memiliki budaya atau adat istiadat yang sama pula. Perbedaannya ialah terletak pada bahasa yang digunakan. Suku Bugis dan Mandar  merupakan suku asli yang mendiami wilayah asal Sulawesi Selatan, yang kemudian menyebar di beberapa tempat di Indonesia, salah satunya ialah di Pulau Karimunjawa. Suku Bugis pertama kali mendarat Pulau Karimunjawa pada tahun 1932 menggunakan kapal pinisi, hal itu disebabkan karena tidak amannya kondisi Sulawesi Selatan pada masa itu, seperti peperangan antar kerajaan, dan ancaman dari pihak Belanda. Sejak saat itulah, Suku Bugis dan Mandar mendiami Pulau Karimunjawa, tepatnya di Dusun Batu Lawang, Kelurahan Kemojan, Kecamatan Karimunjawa. Bahasa yang digunakan sehari-hari ialah menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Bugi/Mandars, namun Bahasa pertama yang diajarkan ialah Bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan agar anak mudah saat memasuki usia sekolah, kemudian Bahasa Bugis diajarkan pada umur 6 tahun keatas.

Kearifan lokal yang masih dilestarikan yaitu adat “Salamatasi” dan “Tasyakuran Ganjil-Genap”. Salamatasi adalah sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis dan Mandar. Waktu   pelaksanaan salamatasi tidak ditentukan. Salamatasi bersifat kondisional, sehingga dilakukan kapan saja jika bahan-bahan yang digunakan untuk salamatasi sudah siap, yang terpenting dalam acara ini adalah hanya dilakukan sekali dalam setahun. Sedangkan Tasyakuran Ganjil-Genap merupakan kearifan lokal yang digunakan dalam setiap syukuran yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis, baik itu dalam acara syukuran kesedihan maupun kebahagiaan. Tasyakuran ganjil-genap ini lebih merujuk kepada makanan yang disajikan pada saat syukuran. Pada syukuran kesedihan seperti kematian, makanan yang disajikan berjumlah ganjil, sedangkan pada syukuran kebahagiaan seperti pernikahan atau kehamilan makanan yang disajikan berjumlah genap. Kearifan lokal yang lain adalah Tradisi Lambon (diisi tarian pencak silat dan sabung ayam) yang sering diadakan tujuh hari setelah Idul Fitri. Tradisi ini sempat terjaga namun seiring berjalannya waktu diganti dengan tradisi Slamatan yang menyajikan kudapan-kudapan khas Bugis seperti Buras.

Tradisi lain yang masih dapat dijumpai adalah Mamaulu, menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membawa ketan dan telur hias ke masjid. Telur tersebut diwarnai secantik mungkin dan ditusuk sebatang lidi untuk dibagikan kepada anak-anak. Dalam permasalahan maupun perselisihan yang terjadi di Suku Bugis, walaupun sangat jarang bahkan hampir tidak pernah terjadi, permasalahan tersebut diselesaikan dengan kekeluargaan, kemudian jika tidak memungkinkan terselesaikan dengan jalan kekeluargaan, penyelesaian masalah diselesaikan melalui hukum negara. Dalam hal ini sudah tidak ada campur tangan hukum adat.

Suku Bugis tetap menggunakan rumah panggung walaupun perawatan, harga bangun mahal, dan bahan baku sulit didapat dengan alasan agar tidak kehilangan jati diri sebagai Suku Bugis. Selain untuk mempertahankan jati diri sebagai Suku Bugis, rumah panggung juga merupakan konstruksi bangunan yang tahan terhadap gempa dibanding rumah bawah. Tidak sedikit juga masyarakat Suku Bugis di dukuh Batu Lawang, desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa yang sudah menggunakan rumah bawah Interaksi Suku Bugis. Interaksi yang terjadi di Suku Bugis tidak hanya dilakukan oleh sesama Suku Bugis saja, tetapi juga dilakukan interaksi dengan suku lain, seperti suku Jawa, dan suku madura. Hubungan dalam berinteraksi oleh Suku Bugis baik. Perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis tidak harus dilakukan oleh sesama Suku Bugis, melainkan dari antar suku. Meskikpun dulunya di Suku Bugis diharuskan menikah dengan sesama Suku Bugis, tetapi saat ini aturan itu sudah tidak berlaku. Dalam upacara perkawinan, Suku Bugis juga sudah tidak menggunakan adat pernikahan Suku Bugis, tetapi mengikuti adat jawa. Hal ini berarti bahwa Suku Bugis terbuka atas budaya-budaya suku lain. Terdapat paguyuban masyarakat Suku Bugis di Dukuh Batu Lawang, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa yang bernama “Kabug” atau Komunitas Anak Bugis”. Paguyuban ini  beranggotakan pemuda Suku Bugis. Kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan untuk acara tahunan yang dilaksanakan di Dukuh Batu Lawang, yaitu Salamatasi.

Terdapat paguyuban masyarakat Suku Bugis di Dukuh Batu Lawang, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa yang bernama “Kabug” atau Komunitas Anak Bugis”. Paguyuban ini  beranggotakan pemuda Suku Bugis. Kegiatan yang dilakukan adalah mempersiapkan untuk acara tahunan yang dilaksanakan di Dukuh Batu Lawang, yaitu Salamatasi. Paguyuban Berdasarkan Profesi erupakan paguyuban nelayan yang terdiri dari berbagai suku. Paguyuban ini tidak membedakan komposisi terhadap suku yang ada dan tidak menjadikan keturunan sebagai tolak ukur dalam keanggotaannya. Contoh : terdapat paguyuban nelayan rumput laut, anggotanya terdiri dari Suku Bugis dan Suku Jawa.

Tabel 1.1 Jumlah Responden Berdasarkan Tingkat   Pendidikan yang ditamatkan.

Pendidikan Terakhir Jumlah Responden
Tidak Lulus SD 1
SD 16
SMP 12
SMA 2
PT 1
JUMLAH 32

(Sumber : Hasil Penelitian 2018)

 

Tabel 1.2 Jumlah Responden Berdasarkan Mata Pencaharian

MATA PENCAHARIAN JUMLAH RESPONDEN
Nelayan 31
Pedagang 1
JUMLAH 32

(Sumber : Hasil Penelitian 2018)

 

Terdapat beberapa kelas dalam nelayan di Suku Bugis yang terdiri dari nelayan kecil, anak buah kapal, dan pemilik kapal. Nelayan merupakan mata pencaharian turun-temurun bagi masyarakat Suku Bugis. Mata pencahaian turun-temurun adalah mata pencaharian yang diperoleh dengan cara anak atau ketuunan melanjutkan atau mengikuti mata pencaharian orang tua atau sanak saudaranya. Sehingga dalam suatu keluarga terdapat dua atau lebih generasi yang sama-sama bekerja sebagai nelayan. Di samping mata pencaharian pokok yang dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis, ada pula pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan ini bertujuan untuk menambah pendapatan masyarakat Suku Bugis dan membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari karena semakin meningkatnya beban biaya hidup. Jenis pekerjaan sampingan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis yaitu kuli bangunan dan pertanian. Penghasilan yang diperoleh dari mata pencaharian yang dilakukan Suku Bugis baik mata pencaharian pokok maupun mata pencaharian sampingan tidak menentu. Hal ini di karena beberapa faktor, faktor yang pertama yaitu faktor alam. Bagi para nelayan faktor alam sangat berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan yang ada dilaut. Semakin bagus cuacanya semakin banyak pula tangkapan ikan yang diperoleh hal ini juga akan mempengaruhi penghasilan yang semakin tinggi.  Penghasilan yang diperoleh pada saat musim teduhdapat mencapai 5 juta perbulan, bahkan untuk pemilik kapal dan nelayan yang menggunakan bubu (alat sembunyi ikan) dapat mencapai 1 – 4,5 juta semalam.

 

  1. Kebudayaan Suku Jawa

Suku Jawa adalah Suku terbesar yang menempati wilayah Kepulauan Karimunjawa, yang tersebar di Pulau Kerimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk dan Pulau Genting. Mayoritas masyarakat Jawa  beragam Islam, dan beberapa masyarakat beragama Kristen. Meskipun menjadi suku mayoritas, Masyarakat Suku Jawa tidak menunjukkan superioritas kesukuan.  Hal itu dibuktikan dengan adanya upacara-upaca kebudayaan yag melibatkan semua suku di Karimunjawa, seperti Barikan Kubro yang dilaksanakan satu tahun sekali tiap tanggal 5 September. Barikan merupakan doa bersama sebagai wujud syukur masyarakat Karimunjawa atas hasil bumi dan laut. Selain itu, ada juga festival Barikan Kecil/Barikan Sugro, yang dilaksanakan setiap kamis wage pada tanggalan Jawa. Selain Barikan, setiap tahun masyarakat Jawa juga mengadakan berbagai festival, seperti festival jajanan pesisir, dan berbagai festival lainnya yang diikuti oleh semua warga termasuk suku-suku lain di Pulau Karimunjawa.

Sejarah kedatangan masyarakat Suku Jawa turut dipengaruhi oleh sejarah kedatangan Syaikh Amir Hassan di Pulau tersebut, yang kemudian diikuti oleh masyarakat lain yang berasal dari Pulau Jawa. Ada beberapa kearifan lokal Suku Jawa di Karimunjawa yang berkaitan dengan Syaikh Amir Hassan, diantaranya ialah:

  1. Kearifan Lokal Kisah Lele Dumbo Stingless Fresh Air
  2. Keaarifan Lokal Kisah Kuku Tindik
  3. Kearifan Lokal Kisah Ular Buta
  4. Kearifan Lokal Kayu Dewadaru, yang menurut cerita rakyat setempat, jenis kayu yang memiliki kekuatan magis. Masyarakat setempat percaya bahwa kayu tersebut akan membuat rumah mereka menyelamatkan dari pencuri atau tindakan mengganggu lainnya jika mereka menggunakan bagian dari kayu tersebut di rumah mereka.
  5. Kayu Setigi, dipercaya sebagai kayu yang digunakan sebagai tongkat oleh Sunan Nyamplungan atau Syaikh Amir Hassan dan digunakan untuk mengutuk ular disebutkan bahwa kayu ini digunakan untuk menetralkan racun binatang.
  6. Kayu Kalimasada, ialah jenis kayu yang memiliki kekuatan Masyarakat lokal menggunakan kayu ini untuk melawan roh setan sering menggunakan kayu ini.

Dalam menjaga kebudayaan Suku Jawa, selain diadakannya festival, petinggi masyarakat Jawa yang juga sekaligus sebagai lurah Desa Karimunjawa mencoba menjaga keutuhan dan kelestarian kebudayaan dan kearifan lokal agar tidak terpengaruh oleh busaya luar dengan menanam nilai-nilai ke pemuda Karimunjawa, seperti pembinaan dari RT, adanya TPQ, dan penanaman pendidikan kearifan lokal sejak dini.

Pernikahan antar suku dalam Budaya Suku Jawa diperbolehkan hingga menghasilkan hingga menghasilkan beberapa akulturasi budaya, terlebih dalam hal makanan dan budaya terutama dalam peggunaan bahasa.

Dalam menyatukan masyarakat Jawa dan masyarakat suku lain, diadakan beberapa paguyuban salah satu paguyuban yang menyatukan antar suku yaitu Tarian minakara. Tarian ini merupakan wujud kelestarian bagi pemuda pemudi desa untuk mencintai kesenian Jawa. Pak gunawan selaku guru SMP 1 Karimunjawa mengatakan bahwa upaya pelstarian paguyuban Tarian minakara sudah dilakukan di sekolah –sekolah, salah satunya di SMP 1 Karimunjawa yaitu siswa-siswi diajarkan setiap sabtu  sore di ruang kesenian sekolah.

Komunitas Tourguide merupakan paguyuban yang cukup efektif bagi warga Karimunjawa baik suku  Jawa maupun Suku lain. Karena bersifat terbuka bagi umum para tourguide untuk bekerja bersama. Selain tourguide ada paguyubuan lain yang sejenis yaitu paguyuban nelayan, paguyuban penyewaan kapal dan paguyuban bidang SAR yang berjalan baik di masyarakat Karimunjawa.

Mayoritas Agama yang dianut Masyakat Suku Jawa adalah Islam. Namun sebagian ada yang beragama Kristen. Untuk Fasilitas ibadah hamper disetiap desa terdapat satu masjid dan beberapa mushola. Tetapi untuk Gereja hanya ada satu di Desa Karimunjawa. Masyarakat Jawa meskipun berbeda agama mereka tetap hidup berdampingan dan menjunjung toleransi beragama.

Di Pulau Karimunjawa banyak masyarakat yang memiliki mata pencaharian sebagai nelayan lokal. Baik itu nelayan yang berskala kecil maupun nelayan yang berskala menengah. Beberapa jenis nelayan yang ada di Karimunjawa adalah nelayan tangkap dan nelayan budidaya. Nelayan tangkap adalah nelayan yang mendapatkan hasil buruan dari menangkap di laut, baik di laut pinggiran ataupun laut yang agak dalam. Kebanyakan nelayan tangkap akan memburu hasil tangkapannya baik dengan cara memancing, menombak atau menjaring.

Sedangkan nelayan budidaya adalah nelayan yang tidak menangkap ikan secara langsung di laut namun mereka memilih untuk membudidayakan ikan bisa melaui karamba ikan, kolam, dan lain – lain. Ada beberapa budidaya yang sedang dikembangkan oleh nelayan Karimunjawa seperti Budidaya Ikan Kerapu, Budidaya Lobster, Budidaya Rumput Laut. Hasil dari budidaya tersebut nantinya akan ditampung oleh pengepul lokal dan kemudian akan didistribusikan ke kota.

Profesi lainnya dari masyarakat Suku Jawa adalah pada sector pertanian. Bagi masyarakat kepulauan Karimunjawa usaha pertanian pada umumnya adalah ladang/tegalan. Umumnya sawah di kepulauan Karimunjawa sangat tergantung pada musim hujan. Berdasarkan Balai Taman Nasional (2004:9) tanaman pertanian yang dikembangkan penduduk meliputi tanaman perdagangan rakyat seperti Cengkeh, Kelapa Kopi dan Randu, dan tanaman pangan seperti jagung, Ketela Pohon, Ubi Jalar, Kacang Tanah, Kedelai dan Kacang Wijen. Di samping jenis tanaman tersebut di atas, para penduduk telah mengembangkan pula jenis tanaman hortikultura yaitu mangga, pisang, nangka, sukun, nanas, jeruk, kedondong, jambu air dan jambu monyet.

Tabel 2.1 Mata Pencaharian Masyarakat Suku Jawa Berdasarkan Sampel

No. Mata Pencaharian Jumlah
1. Guru 3
2. Nelayan 5
 3. Pedagang 9
4. Wiraswasta 10
5. Jasa/Usaha 6
6. Ibu Rumah Tangga 4
Total 37

(Sumber : Hasil Penelitian 2018)

  1. Kebudayaan Suku Bajau

   Suku Bajau adalah suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut.. Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah dan berbagai wilayah Indonesia, salah satunya di pulau Karimunjawa. Suku Bajau lebih banyak melakukan aktivitas kesehariannya di atas perahu untuk tidur, atau berburu hasil laut. Mereka akan menuju daratan hanya untuk menjual hasil laut atau membeli keperluan rumah tangga yang tak bisa dibuat sendiri. Meskipun demikian, pada saat ini sebagian besar orang Bajau sudah tinggal menetap di sepanjang pantai.

Suku Bajau memiliki setidaknya 10 bahasa yang diturunkan dari bahasa induk Sama-Bajaw. Secara garis besar suku ini banyak menggunakan bahasa Sinama. Namun bahasa ini sering disebut sebagai Bahasa Bajau karena dipakai hampir di semua suku dan turunannya. Bahasa yang dipakai ini cenderung mirip dengan Tagalog karena mereka berasal dari Filipina. Namun suku-suka yang berada di area Malaysia, Brunei, dan Indonesia menggunakan bahasa yang ada campurannya dengan bahasa setempat. Meskipun masyarakat Suku Bajau memiliki bahasa tersendiri, namun bahasa pertama yang diajarkan masyarakat Bajau di Karimunjawa kepada anaknya ialah Bahasa Indonesia. Hal ini agar anak tersebut dapat berkomunikasi dengan mudah saat memasuki usia sekolah.

Secara garis besar, orang-orang yang ada di Suku Bajau banyak menganut Islam. Mereka mempelajari keyakinan ini saat berada di kawasan Malaysia dan juga Brunei. Lambat laun kepercayaan ini menyebar luas hingga akhirnya 95% Suku Bajau menganut Islam meski tidak meninggalkan beberapa kebiasaan di masa lalu saat masih menganut animisme dan dinamisme.Biasanya dalam setiap kelompok masyarakat selalu ada orang yang dianggap sebagai sesepuh. Ia bisa disebut dengan dukun atau dalam bahasa setempat sering disebut dengan kalamat. Pada Suku Bajau yang muslim, orang dengan predikat ini sering disebut juga dengan wali jin. Ia sering melakukan ritual agar Suku Bajau diberi keselamatan saat berada di lautan dan selalu mendapatkan berkah hasil laut yang melimpah.

Mata Pencaharian masyarakat Suku Bajau Mayoritas ialah bekerja di bidang perikanan atau menjadi nelayan. Hal ini kebanyakan bersifat turun-temurun dari generasi ke generasi, masyarakat yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang yang lebih tinggi akan bekerja sebagai nelayan untuk memnuhi kehidupan seehari-hari.

Tabel 3.1 Mata Pencaharian Masyarakat Bajau berdasarkan sampel

No. Mata Pencaharian Jumlah
1. Nelayan 4
2. Buruh 1
3. Pedagang 1
4. Ibu Rumah Tangga 2
Total 8

(Sumber : Hasil Penelitian 2018)

  1. Suku Madura

            Suku Madura merupakan salah satu suku yang mendiami wilayah si Karimunjawa, tepatnya berada di Pulau Kemojan, Dusun Batu Lawang dan hidup bersama dengan suku-suku lain di Pulau Karimunjawa, seperti suku Bugis dan Mandar. Sehingga akulturasi berdasarkan perkawinan di dalam Suku Madura sangat kental, hingga masyarakat Madura terkadang menggunakan Bahasa Bugis dalam berinteraksi.

Suku Madura adalah suku yang memiliki karakter yang sangat kuat, baik dari sisi bahasa, kesenian, teknologi dan unsur kebudayaan lainnya. Persebaran orang-orang yang berasal dari Suku Madura tidak hanya terfokus di satu daerah, melainkan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di karimunjawa. Suku Madura mayoritas memeluk agama islam. Selain itu, juga ada yang menganut agama kristen protestan dan katolik. Orang Madura merupakan salah satu suku yang dikenal identik dengan tradisi islam yang sangat kuat. Islam begitu meresap dan mewarnai pola kehidupan masyarakat Madura. Bagi masyarakat Suku Madura betapa pentingnya nilai-nilai keagamaan yang terungkap dari ajaran abantal syahadat, asapo’ angina, apajung Allah yang artinya suku Madura sangat religius.

Kebudayaan masyarakat Madura yang masih tetap ddilestarikan di Pulau Karimunjawa ialah berupa Pencak Silat. Pencak Silat adalah seni bela diri yang diturunkan turuntemurun dan dari generasi ke generasi oleh Masyarakat Suku Madura.

Mayoritas masyarakat Suku Madura bekerja dibidang perdagangan, hal ini menunjukkan meskipun masyarakat Madura tidak tinggal di daerah asal mereka, jiwa dagang masih meresap di dalam darah masyarakat Madura.

Tabel 4.1 Mata Pencaharian Masyarakat Suku Madura Berdasarkan Sampel

No. Mata Pencaharian Jumlah
1. Pedagang 2
2. Nelayan 1
3. Tidak Bekerja 1
Total 4

(Sumber : Hasil Penelitian 2018)

KESIMPULAN

Pulau Karimunjawa merupakan salah satu Kepulauan yang berada di sebelah Utara Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa tengah. Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa, Pulau Karimunjawa juga memiliki kekayaan Budaya yang tinggal dan hidup dalam keharmonisan antar suku. Suku-suku tersebut ialah Suku Bugis, Suku Bajau, Suku Madura, Suku Mandar, dan Suku Jawa. Kelima suku tersebut memiliki kebudayaan-kebudayaan yang khas yang menjadi ciri-ciri masing kelimaa suku tersebut. Mereka saling berinteraksi satu sama lain secara harmonis tanpa menimbulkan suatu konflik atau superioritas masing-masing suku.

SARAN

Pulau Karimunjawa selain menyimpan keindahan alam yang luar biasa, juga menyimpan kekayaan budaya yang jarang ditemui di daerah-daerah lain. Pemerintah sebagai lembaga negara sebaikya menjadikan Pulau Karimunjawa sebagai salah satu ikon kerukunan baik di kancah nasional maupun internasional. Sedangkan dari sisi masyarakat, pelestarian kebudayaan diperlukan dalam rangka menyaring kebudayaan-kebudayaan asing yang berasal dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

Lestari, Kukun Puji,dkk. 2017. Artikel Analisis Pola Interaksi Sosial, Pola Pendidikan Dan

Ekonomi Pada Masyarakat Suku Bajau Di Kepulauan Karimun Jawa.

 

Linawati, Mumtaz. 2017. Artikel Analisis Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Karimunjawa

Studi Kasus Suku Bugis

 

Poerwanto, Hari. 2002. Analisis Komparasi Lintas Budaya. Jurnal Humaniora. 14

(1):42-52.

 

Sugiyono. 2014.  Metode Penelitian Pendidikan:Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

  dan R & D. Bandung: Alfabeta.

 

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung:PT Remaja

Rosdakarya.

 

Sutardi,  Tedi.  2007.  Antropologi:Mengungkap Keragaman Budaya untuk kelas  XII

Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Bahasa. Bandung:PT

  Setia Purna Inves.

Suzuka, miya. 2017. http://www.ark21.com/unique/melirik-keunikan-suku-bajo-indonesia- yang-hampir-punah/. Melirik keunikan suku bajo indonesia yang hampir punah.

 

 

Gambar 1. Interview dengan suku Bajau di pulau Karimunjawa

 Gambar 2. Observasi lapangan dan interview dengan kepala suku Bugis bapak Abdullah

Gambar 3. Observasi lapangan dan interview dengan Kepala Desa Karimunjawa dari Suku Jawa

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: