PKM PSH “Local Wisdom Pikukuh Sapuluh Suku Baduy dalam Konservasi Lingkungan Budaya Desa Kanekes”

Pada Kamis 16 Mei 2019, salah satu tim PKM PSH dari UNNES berangkat ke Suku Baduy untuk melakukan observasi. Tim PKM Suku Baduy beranggotakan 3 orang, diketuai oleh Mega Halmahera,  anggotanya Anggi Septia Purnama, dan Fuad hasyim serta Dosen Pembimbing Bapak Andi Irwan Benardi, S.Pd., M.Pd. Tim PKM ini mengulik kebudayaan Suku Baduy yang masih kental dengan tradisi-tradisi yang masih memegah teguh aturan-aturan adat. Suku Baduy adalah kelompok etnis yang hidup berdampingan dengan alam, terletak di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Desa Kanekes terletak tidak jauh dari pusat pemerintahan Kecamatan Leuwidamar yaitu sekitar 17 kilometer. Secara geografis suku Baduy terletak pada koordinat 6027’27”- 6030’0” LS dan 10803’9”- 10604’55” BT.

Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes terbagi menjadi dua, yaitu Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Suku Baduy Dalam bertempat tinggal di tiga Kampung, diantaranya Kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Sedangkan Suku Baduy Luar bermukim di beberapa kampung yang mengitari ketiga kampung Suku Baduy Dalam. Dalam segi pakaian, Baduy Dalam mengenakan baju berwarna putih yang disebut “jamang kurung” dengan ikat kepala berwarna putih. Sedangkan Suku Baduy Luar mengenakan ”jamang kampret” berwarna hitam dengan ikat kepala berwarna biru motif batik.

Masyarakat Baduy memegang teguh nilai-nilai leluhur yang mencintai alam dan menjaga baik hubungan sosial. “Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak” ucap Jaro Saija (Kepala Desa Kanekes). Kalimat tersebut yang berarti gunung tidak boleh dirusak/dihancurkan dan lebak atau lembah tidak boleh dirusak. Selain prinsip, masyarakat Baduy juga mematuhi aturan adat yang berlaku, yaitu pikukuh sapuluh dan pikukuh karuhun. Pikukuh sapuluh merupakan aturan yang mengatur kehidupan sosial masyarakat Baduy, sedangkan pikukuh karuhun aturan tentang pelestarian dan menjaga alam. Tim PKM Baduy fokus penelitiannya ke pikukuh sapuluh, yang isinya sebagai berikut:

  1. Moal megatkeun nyawa nu lian (Tidak membunuh)
  2. Moal mibanda pangaboga nu lian (Tidak mencuri)
  3. Moal linyok moal bohong (Tidak ingkar dan tidak bohong)
  4. Moal mirucaan kana inuman nu matak mabok (Tidak minum-minuman yang memabukkan)
  5. Moal midua ati ka nu sejen (Tidak poligami)
  6. Moal barang dahar dina waktu nu ka kungkung peting (Tidak makan pada tengah malam)
  7. Moal make kekembangan jeung seuseungitan (Tidak memakai bunga-bungaan dan wewangian)
  8. Moal ngageunah-geunah geusan sare (Tidak melelapkan diri dalam tidur)
  9. Moal nyukakeun ati ka nu igel, gamelan, kawih atawa tembang (Tidak menyenangkan hati dengan tarian, music, atau nyanyian)
  10. Moal made emas atawa salaka Tidak memakai emas atau permata).

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

* Kode Akses Komentar:

* Tuliskan kode akses komentar diatas: